USIA KEHAMILAN DAN IKTERUS NEONATORUM
Abstract
Abstrak. Salah satu penyebab AKB (angka kematian bayi) yang harus menjadi perhatian adalah ikterus neonatorum. Ikterus dapat terjadi 60% pada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi kurang bulan (Danaei, et al, 2016). Ikterus neonatorum merupakan keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin dan terkonjugasi yang berlebih, ikterus secara klinis akan mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dL (Sukadi, A, 2014). Ikterus patologi yaitu ikterus yang timbul apabila kadar bilirubin total melebihi 12 mg/dl, apabila tidak ditangani dengan baik akan berdampak ke enselopati akut bilirubin (ABE) atau kern ikterus dan menyebabkan kematian bayi (Hidayat & Rahmawati, 2016). Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah usia kehamilan ibu pada saat melahirkan. Usia kehamilan adalah masa sejak terjadinya konsepsi sampai saat kelahiran dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kadar bilirubin neonatus aterm tidak melebihi 10 mg/dl dan kadar bilirubin neonatus preterm biasanya tercapai pada usia 2-3 hari dan dapat meningkat hingga melebihi 15 mg/dl. Tujuan: untuk mengetahui adanya hubungan usia kehamilan dengan kejadian ikterus neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Polewali Mandar Tahun 2021.
W9Metode: penelitian ini merupakan jenis penelitian deskripif, sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 kasus dengan menggunakan tehnik purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder tentang usia kehamilan pada saat melahirkan, diperoleh dari catatan rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Polewali Mandar dengan menggunakan lembar observasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis menggunakan program statistik SPSS versi 20 dan dianalisis dengan Uji Chi-Square. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan adanya hubungan tentang usia kehamilan dengan kejadian ikterus neonatorum. Dapat diketahui bahwa kelompok yang memiliki resiko prematuritas ini, sebagian besarnya (30%) mengalami kejadian ikterus neonatorum, sementara hanya sebagian kecil (13,3%) yang tidak mengalami ikterus neonatorum.
Kesimpulan: Adanya hubungan masa kehamilan dengan Ikterus Neonatorum di Rumah Sakit Umum polewali
References
Cunningham, F. Gary. 2012. Obstetri williams. Jakarta; Buku Kedokteran EGC.
Hiperbilirubin. Journals Ners Community.2017;11-9.
HTA Indonesia. Tatalaksana Ikterus Neonatorum. Jakarta: Depkes RI; 2004.
Hidayat, dan Rahmaswari, M. (2016). Hubungan Faktor Ibu dan Faktor Bayi Dengan Kejadian Hiperbilirubinemia Pada Bayi Baru Lahir (BBL) di Rumah Sakit 5MA ”Temu Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengabdian Masayarakat”, 93-98.
Hidayat, A.Aziz Alimul. (2015). Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.
Kementerian Kesehatan RI. (2015). Profil Kesehatan Indonesia 2015. Jakarta. Pusat Data d an Informasi.
Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aescupalius; 2010.
Moeslichan, Surjono, Surandi, Rahardjani, Usman A, Rinawati. Tatalaksana Ikterus Neonatorum. Jakarta: Kementerian Kesehatan; 2004.
Musriah,N. (2017). Jurnal Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Ikterus Di BPS Ny. Sri Purweni Mrican Kota Kediri. Jurnal Kesehatan, Volume 1 No. I, Januari – Juni.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2017. Dinas Kesehatan Provinsi
Sulawesi Barat, Polewali Mandar.
Roselina E, Pinem S, Rochimah. Hubungan Jenis Persalinan dan Prematuritas dengan Hiperbilirubinemia di RS Persahabatan. Jurnal Vokasi Indonesia. 2013;1(1):74–81. 60 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Ratuain MO. Hubungan antara Masa Gestasi dengan Kejadian Ikterus Neonatorum di RSUD Wates Tahun 2012. Skripsi: Poltekkes Kemenkes Yogyakarta; 2013.
Sarwono Prawirohardjo.2008. Buku panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta:YBPSP
Sukadi (2007). Hiperbilirubinemia. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A (eds). Buku ajar neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, pp:147-169.
Syajaratuddur Faiqah. (2014). Hubungan Usia Gestasi dan Jenis Persalinan dengan Kadar Bilirubinemia Pada Bayi Ikterus. Jurnal Kesehatan Prima Vol.8 No.2,Agustus 2014.
Ulfah M. Hubungan Berat Bayi Lahir Rendah dan Prematuritas dengan Kejadian Ikterus Neonatorum di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2014. Viva Medika. 2015;8(15):78–88.
WHO. (2017). World Health Statistics. Switzerland: World Health Organization.
WHO. (2015). World Health Statistics. Switzerland: World Health Organization